Perjuangan Pangkal Kemerdekaan
Perjuangan
Pangkal Kemerdekaan
Semua
ini berawal dari kedatangan negeri matahari terbit ke dalam Indonesia. Belanda
mereka usir dan mereka menjanjikan
bangsa Indonesia sebuah harapan untuk merdeka. Sebuah harapan untuk
bebas dari penderitaan ini. Sekilas, aku percaya dan mengharapkan kemerdekaan
namun semua itu ternyata hanyalah sebuah tipu daya untuk memperdaya kami semua.
Sekolah?
Mimpi saja. Itu semua hanyalah omong kosong Jepang dan kenyataannya, aku
dijadikan romusha oleh mereka dan semakin besar penderitaanku ini. Tidak hanya
diriku melainkan ada ribuan orang yang mereka tipu untuk bekerja dengan janji
upah disekolahkan. Seharusnya aku tahu semua ini hanyalah omong kosong. Tidak
mungkin kemerdekaan diberikan dengan cuma-cuma.
Sekarang
ini, aku bekerja mengangkut kayu-kayu yang telah ditebang ke tempat persediaan.
Selama bekerja, perutku terasa kosong karena tidak makan selama berhari-hari. Setiap
harinya, aku bekerja dan jika aku beristirahat sebentar saja, tentara-tentara
jepang malah menyiksaku dan menyuruhku untuk terus bekerja. Sudah 2 tahun aku
bekerja sebagai romusha dan rasanya muak sekali berada di neraka ini. Aku ingin
kebebasan.
Sampai
suatu malam, aku bersama dengan teman-teman seperjuanganku datang berkumpul di
tempat yang cukup tersembunyi dari tentara-tentara Jepang lalu kami berunding.
Kira-kira ada 5 orang jumlahnya yang datang berkumpul termasuk aku.
“
Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini,” keluh Soeparno yang telah bekerja
selama 2 tahun juga.
“
Iya, dan aku ingin sekali kabur dari sini tapi kalau kita kabur, pasti
tentara-tentara Jepang akan memburu kita bahkan membunuh kita,” ucap Iwan yang
baru setahun bekerja disini.
“
Iya, lebih baik kita tetap bekerja disini dibanding nanti pada akhirnya kita
dibunuh oleh mereka,” ucap Haryanto, orang yang paling lama bekerja dan
mengabdi kepada Jepang selama 3 tahun.
“
Tapi mau sampai kapan kita seperti ini terus. Sampai kita mati baru kita
dibebaskan?” ucapku dengan kesal. Semua
orang terdiam dan pada akhirnya, Tarno, yang dari tadi terdiam, berdiri lalu
berkata,” Benar kata Mito. Mau sampai kapan kita begini terus? Satu-satunya
jalan keluar adalah kabur dari sini.”
“
Ya betul. Kita harus kabur sekarang kalau tidak mau ketahuan tentara Jepang.
Aku dengar mereka sedang mengadakan rapat bersama di pusat dan tidak banyak
yang sedang berjaga-jaga,” ucap Iwan lalu tanpa basa-basi lagi, kami menyusun
sebuah rencana untuk kabur dari tempat yang sangat menyiksakan ini.
“
Kalau kita sampai ketahuan, lari sekencang-kencangnya meskipun kita berlima mungkin akan berpisah,” lantur
Haryanto dengan sedikit khawatir. Kami semua hanya mengangguk lalu mengambil
senjata-senjata kami yang bukan lain lagi adalah alat kerja kami seperti kapak,
gergaji, dan lain-lain.
Ketika
kita sudah menemukan waktu yang tepat yaitu sekitar jam 2 pagi, kami pergi
diam-diam. Kami berjalan melewati pagar pembatas dan sesuai yang dikatakan
Iwan, tidak banyak yang sedang berjaga-jaga.
Ketika
kami sudah keluar dari tempat yang mengerikan itu, tiba-tiba aku menabrak
seseorang dan rupanya orang itu adalah salah satu tentara Jepang. Ia juga sangat
terkejut ketika melihatku dan teman-temanku yang lain.
“
Hey, kalian mau kemana? Hey!!” Kami semua langsung berlari tanpa
menghiraukannya dan masuklah kami ke dalam hutan. Ketika aku menoleh ke
belakang, ternyata tentara Jepang yang tadi menabrakku mengajak kawan-kawannya
untuk mengejar kami semua. Aku berlari sekuat tenaga dan aku bisa merasakan
ujung-ujung daun membeset lenganku seperti silet.
Tentara-tentara
itu mengejar kami dan melepaskan peluru ke arah kami. Setelah kusadari, Iwan,
yang berlari di sebelahku tertembak dan peluru itu mengenai punggungnya. “
Iwan!! Ayo kita harus tetap berlari!” teriakku sambil membantunya berdiri tapi,
ia menggelengkan kepalanya dan mendorongku.
“
Jangan hiraukan aku. Cepat lari saja!” Aku menatapnya dengan iba. Aku ingin
menolongnya tapi, di sisi lain, aku tidak ingin ditangkap oleh tentara-tentara
itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dalam sedetik, aku langsung memutuskan
untuk membantu Iwan berdiri lalu kami langsung bersembunyi di balik
semak-semak. Aku tahu ini sama saja cari mati tapi aku tidak tahu harus
bagaimana. Aku tidak rela meninggalkan Iwan begitu saja.
Setelah
aku bersembunyi, tentara-tentara itu berlari melewati semak tempat kami
bersembunyi dan terus mengejar yang lain. Aku langsung merasa lega ketika
mereka tidak menyadari keberadaan kami dan langsung saja aku menolong Iwan
menghentikan darah yang terus mengalir dari punggungnya itu.
Aku
mengambil peluru itu dari dalam tubuhnya dan Iwan langsung menahan sakit yang
luar biasa itu lalu aku langsung menutupi lukanya dengan dedaunan. Setelah itu,
kami langsung berlari lagi menjauhi tempat penyiksaan itu.
Semenjak
hari itu, aku dan Iwan menjadi buronan tentara-tentara Jepang dan kami selalu
berpindah-pindah tempat untuk menghindari mereka. Sampai pada akhirnya, Jepang
menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945 dan akhirnya pada tanggal 17
Agustus 1945, bangsa ini merdeka. Kemerdekaan ini rasanya seperti anugerah
karena aku kira kemerdekaan ini tidak mungkin akan terjadi. Kami yang menjadi
budak-budak Jepang langsung dibebaskan dan aku tak henti-hentinya tersenyum
apalagi ketika mendengarkan proklamasi bangsa Indonesia yang disiarkan di radio.
Selama hidupku, aku tidak akan pernah melupakan kemerdekaan ini dan aku salut
dengan pahlawan-pahlawan yang telah berjuang untuk mencapai kemerdekaan ini.
Sampai
sekarang ini, umurku telah berlanjut dan aku bekerja sebagai seorang penulis.
Mengenai nasib teman-temanku yang tetap berlari pada saat itu, mereka
dikabarkan meninggal dan mayatnya ditemukan seminggu kemudian. Aku langsung
meratapi kematian mereka tapi, aku mengucap syukur karena penderitaan ini
akhirnya selesai juga. Memang benar kemerdekaan tidak akan diberikan dengan
cuma-cuma melainkan diraih oleh perjuangan-perjuangan para pahlawan kita. Terima
kasih para pahlawan untuk perjuanganmu dan biarlah muncul pahlawan-pahlawan
baru pada masa ini untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.
Studi Pustaka
Karya Jessica Sunaryo
BalasHapus